Terminal 3 Bandara Soeta

By Rahmadi Budiman

Sharing inreyen Terminal 3 Bandara Soeta Jakarta…
Seperti biasa, kembali pakai IAA (Indonesia Air Asia) j6.35 karena GA400 sudah sampai ke Economy Class “M”…

Prediksi terminal ini mampu 1 juta penumpang, sepertinya harus direvisi. Karena pada saat busy hour seperti j5 wib di mana mayoritas seluruh maskapai menjadwalkan berangkat pukul 5.30 – 6.30, terminal ini seperti penuh sesak dan tidak siap menampung sekitar 400 penumpang dalam suatu waktu yang bersamaan. (Gambar tidak diambil)…

Mulai pintu masuk, sudah ada 4 line antrian yang mengerucut menjadi 2 line. Biasa…masalah 1st check point. Di sini mulai penumpang sulit diatur, tidak seperti terminal 1 dan 2 yang “sudah mature”. Ada yang teriak2 pesawat jam 6 lah, ada yang bilang hampir ketinggalan lah…kembali lagi, seharusnya para penumpang sadar, bahwa jam 5 wib itu jam busy hour.
Sampai di desk area, bergegas menuju desk di mana penerbangan ke Denpasar tertulis di papan di atasnya. Di sini cenderung lebih lega dibandingkan dengan terminal 1 atau 2 (domestik), di mana padatnya penumpang sudah tersortir di 1st check point terminal 3.

Bergegas cari musholla untuk subuhan, ketemu di dekat area kedatangan. Secara umum, saya lebih suka shalat di terminal 2 (karena suasananya cenderung lebih khusu’) dan di terminal 1 (lebih luas). Di sini masih terlihat agak kotor karena pembangunan bandaranya baru jadi.

kedatangan-21

Suasana di Arrival Area di jam 5.30 wib

 

 

Naik ke lantai 2, Departure Area…

keberangkatan

 

 

 

Terkesan bukan di Jakarta, lebih modern…
Di sini ada fasilitas minuman gratis seperti di kampus saya, ITB. Tapi karena saya sibuk ambil gambar yang lain, terlupa…

Masuk ke 2nd check point…wah…antriannya…panjang. Tidak seperti terminal lainnya, walau panjang, tetapi tertib dan cepat….
antri-check-point-2

Di sini terlihat ada 4 line yang mengerucut kembali menjadi 2 line.

Seperti biasa, negaraku tercinta…banyak yang main selonong sana sini dengan dalih “sudah boarding”

Apakah mereka ngga sadar, kalau sudah pegang boarding pass, kita sudah terdaftar di manifest penumpang…ngga usah buru2, pak…bu…tenang aja
Di sini saya mendapatkan pengalaman yang cukup menggelikan. Mayoritas menyalahkan “terminal 3″…dengan kata2:
“kapok deh saya pakai terminal 3″
“ini gara2 petugasnya ngga cekatan”
dan sebagainya…

Tapi mereka lupa, ini adalah kesalahan maskapai di mana dalam waktu serentak mereka memberangkatkan pesawatnya bersamaan…Bukan karena sdm Angkasa Pura kurang cekatan atau terminal 3 yang belum 100% ready…tetapi justru maskapainya yang mengatur jadwal berdekatan.
Bahkan bapak-bapak sebelah saya maju ke depan karena sudah final boarding call, tapi sampai depan disuruh antri…(salut…!)…dengan nada kesal dia bilang : payah ni terminal 3, kapok saya ke sini. Mendingan terminal lain…
Langsung saya balas : pak, kalau penerbangan paling pagi, pasti hectic seperti ini. Ngga terminal 3, tapi 1 dan 2 juga seperti ini. Eh dia ngga terima…dia bilang ngga kok mas, saya sering pakai terminal 2 ngga seperti itu….saya balas lagi, saya pulang tiap minggu pakai terminal 2 dan yakin 100% hectic…ngga percaya, pak? hehehe…kok ya orang menyalahkan sistem baru, ngga mau diajak berubah…*sigh*
Ada juga (maaf) TKI yang nyerobot antrian sambil berdalih dia sudah beli tiket RM 210 (kata lain : mahal dan sombong karena baru datang dari malaysia) takut ketinggalan…saya timpali lagi, maaf silakan antri dari belakang…di Indonesia yang laku Rupiah, bukan Ringgit…hehehe…
boarding-lounge

Setelah check point 2, terlihat interior minimalis di bandara ini. Semua disebut area 1, 2, 3, dst…Area itu dibagi sesuai dengan pintu A, B, C, D, yang terdekat.

Di sini terlihat kurangnya informasi di mana kita harus duduk, pintu mana kita akan boarding, maskapai apa, nomer penerbangan…Apalagi speaker (pengeras suara) agak cempreng alias pecah-pecah. Sampai2 bapak yang duduk di belakang saya menanyakan pengumuman boarding…

Overall…
1. Saya prefer menyukai terminal 2 dan 1 karena ke-khas-annya Indonesia,
2. Minimalis karena eco terminal (ecology dan economy) menyebabkan masih banyak yang kurang,
3. Mushola seperti di mall2, mengoptimalkan ruangan tersisa…Perlu dipertimbangkan untuk disempurnakan, maklum airport tax Rp. 40.000 itu seharusnya kita dapat pelayanan prima,
4. Cahaya matahari cukup untuk menggantikan lampu penerangan, tetapi cenderung boros di AC. Kalau di terminal 1, alley ke boarding lounge dibuka tanpa kaca tentunya akan “eco” juga,
5. Antrian di check point 1 dan 2 harus diberikan line. Tipikal orang Indonesia yang tidak bisa tertib harus diatur oleh sistem pasif,
6. Sepertinya untuk taxi akan sulit didapatkan jika melihat layout pintu kedatangan di luar terminal. Walhasil : cenderung taxi gelap merajalela,
7. Karena terminal 3 ini di Indonesia, tolong diperbanyak lagi ke-khas-an Indonesia di dalam terminal. Jangan menjadi bangsa peniru, tetapi jadilah bangsa yang bangga akan budayanya sendiri…

Denpasar, 29 April 2009

Tinggalkan Balasan