Mengapa Menaikkan Harga? (Kasus Singkong Keju…)

By Rahmadi Budiman

Sebagai jalan raya utama yang menghubungkan Ciputat dengan Pamulang dan sekitarnya, jl Raya Pamulang selalu ramai dilewati oleh berbagai macam kendaraan. Tak heran sepanjang jalan itu menjadi lahan basah untuk dijadikan kawasan perbisnisan. Seperti halnya Alfa, Super Indo, Giant (dulu Hero), membuka toko di kawasan Pamulang Permai. Ditunjang oleh keberadaan angkutan kota Ciputat-Muncul 24 jam, maka kawasan ini menjadi kawasan yang “tidak pernah sepi” dari beraneka ragam barang dagangan.

 

Beberapa bulan lalu, tepatnya di depan Toko “Merpati” (Fuji Film), berdiri lapak penjual Singkong Keju “Nyalira” yang dimotori oleh “Kang Ali”. Pada saat awal2 penjualan, seringkali lapak tersebut penuh oleh orang yang antri beli singkong keju. Apalagi pada saat hujan, banyak sekali motor yang mampir untuk beli Singkong Keju tersebut. Dikarenakan usaha singkong keju dianggap cukup menjanjikan, maka muncullah beberapa lapak lain yang berorientasi sama, yaitu “Singkong Keju” atau ada juga yang menamakan “Singkong Meletus”. Mungkin terhitung sepanjang 1 km jalan di daerah Pamulang Permai, ada sekitar 5 pedagang singkong keju. Belum termasuk penjual yang tidak terlihat jelas dari pinggir jalan. Rasanya? Mungkin rasa renyahnya yang membuat ketagihan pembelinya. Untukrasa, keju sedikit, banyak bumbu pedasnya. Berbeda dengan di kota asalnya, Bandung, kejunya benar-benar terasa.

Tetapi apa yang terjadi? Saat ini satu per satu lapak mulai tutup. Dekat kecamatan Pamulang, berganti berjualan Tahu Sumedang. Cabang Kang Ali di Parakan, tutup. Dan sebagainya.
Mengapa?
1. Untuk menandingi rasa Kang Ali, sepertinya sulit kecuali berinovasi. Misalkan singkong rasa strawberry, dan sebagainya. Jika menggunakan trademark “Singkong Keju”, maka relatif konsumen rata-rata menunjuk lapak Kang Ali daripada lapak yang lain,
2. Harganya naik dari Rp 5.000 menjadi Rp. 6.000. Kenaikan harga dimotori oleh lapak Kang Ali pada beberapa minggu lalu. Tetapi serta merta, lapak-lapak lain menaikkan harganya.

Ada sedikit catatan untuk Kang Ali sebagai trademarker Singkong Keju sekitar Pamulang. Walaupun rasa tidak begitu dianggap signifikan, tetapi sebagai pelopor seharusnya Anda mengantisipasi kenaikan beberapa bahan pendukung Singkong Keju dengan cara lain, dengan alternatif kenaikan harga menjadi alternatif terakhir. Mengapa? Karena walaupun kenaikan 20% (dari Rp 5.000 menjadi Rp. 6.000) dianggap tidak memberatkan konsumen, tetapi Kang Ali lupa, bahwa minimal untuk membeli Singkong Keju anda, membutuhkan minimal 2 lembar uang, yaitu pecahan Rp 5.000 dan Rp. 1.000 (untuk logam sementara diabaikan dahulu). Sebelum Kang Ali menaikkan harga, konsumen cukup membayar Rp 5.000 (minimal 1 lembar uang) sehingga dapat menikmati Singkong Keju Kang Ali. Perilaku konsumen seperti ini kurang mendapat perhatian yang lebih dari pebisnis seperti Kang Ali.

Seharusnya untuk mengantisipasi kenaikan bahan penunjang, Kang Ali dapat menyiasati:
1. Mengurangi jumlah singkong (misalkan dari 6 buah singkong dalam 1 dus menjadi 5 buah singkong). Jika konsumen menanyakan, jawablah bahwa hal ini untuk menekan agar Kang Ali berusaha untuk tidak menaikkan harga,
2. Berinovasi dengan cara lain yang lebih murah daripada membeli Keju. Ingat, Keju Kang Ali tidak begitu melimpah ruah di singkongnya. Bisa saja mengganti dengan Margarine, dan sebagainya,
3. Merubah Kemasan dari dus menjadi media lain yang lebih murah. Memang, jika menggunakan styrofoam berbahaya bagi kesehatan. Atau platik hitam, yang notabene karsinogennya menumpuk di plastik tersebut. Setidaknya Kang Ali bisa mengurangi biaya Staples dan Jasa-nya kepada warung sebelah.

Sebagai renungan, mungkin pemerintah perlu membuat suatu pelatihan-pelatihan bagi UKM mengenai strategi menghadapi kenaikan beberapa bahan makanan agar pelaku bisnis dapat survive di saat situasi yang kritis seperti sekarang ini. Mudah-mudahan…

Satu Tanggapan ke “Mengapa Menaikkan Harga? (Kasus Singkong Keju…)”

  1. mo_cab™ Berkata:

    Gak perlu menaikan harga lah…yg perlu menurunkan sedikit keuntungan. Bukankah bisnis makan keuntungan bisa berlipat2 dari modal awalnya?

Tinggalkan Balasan