Arsip untuk Mei, 2008

Mengapa Menaikkan Harga ? (Kasus Bahan Bakar Minyak)

Mei 23, 2008

Akhir-akhir ini topik media massa selalu berkaitan dengan rencana pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Walaupun masih berupa rencana, efek kenaikan tersebut luar biasa. Tidak bisa dipungkiri bahwa ketergantungan kehidupan sehari-hari dengan BBM tidak bisa dilepaskan. Mulai dari moda transportasi, komunikasi, dan lain-lain, menggantungkan asa mereka dengan BBM tersebut.

Terus terang sejak diberi kenikmatan berupa kendaraan roda dua dan roda empat, saya menggunakan BBM jenis Pertamax untuk kedua moda transportasi tersebut. Mengapa? Alasan saya cukup simpel, bahwa untuk mencari Premium yang benar-benar murni cukup sulit. Apalagi mengisi di SPBU berstempel “Pasti Pas”, cukup jauh dari rumah. Sehingga pemikiran saya, untuk pertamax, jarang diutak-atik kadarnya, walaupun praktek tersebut saya yakin tetap ada.

Tetapi Pertamax merupakan BBM yang tida bersubsidi. Artinya, harga pasar end user mengikuti harga minyak mentah dunia. Pada saat saya menggunakan Pertamax, mulai dari selisih harga Rp 300 dari Premium, sampai sekarang……..Hampir 2x Lipat…!

Memang miris sekali pada saat saya isi BBM melihat di samping jika ada mobil yang ber-cc besar tp isi premium…Seandainya mereka lebih membaca karakter mesin yang ditumpanginya…dan membaca rekomendasi penggunaan BBM minimal oktan berapa. Terbayang mobil saya yang harganya murah, tetapi direkomendasikan menggunakan Oktan minimal 90. Sedangkan premium, oktan 89 (itu kalau murni).

Kalau melihat harga BBM pertamax dengan BBM premium yang menurut saya cukup “njomplang” (bahasa Jawa), maka saya sebenarnya setuju premium dinaikkan harganya. Apalagi subsidi BBM diberikan kepada pos anggaran yang konsumtif. Tetapi di sisi lain, keterkaitan harga BBM dengan kehidupan sehari-hari jelas tidak bisa dipungkiri. Buah simalakama bagi pemerintah.

Sebagai warga negara, saya urun rembug…Pemikiran seorang pikir (belum pakar) yang seandainya dapat diterima, ya alhamdulillah. Alternatif ini dilakukan agar subsidi pemerintah untuk menekan supaya harga BBM (terutama yang bersubsidi) tidak naik.

Untuk Pertamina (tidak tahu sebagai apa, regulator/operator…)
Peruntukan : Kendaraan Roda 4
1. Perbanyak pompa Pertamax dibandingkan Premium di protokol Jakarta. Kalau saat ini rasionya (misalkan) 1:4 (1 pompa Pertamax : 4 Pompa Premium), maka ditingkatkan lagi menjadi 1:2. Sehingga kita bisa menggunakan falsafah “bebas antri” untuk Pertamax. Selain itu, antrian SPBU hanya sampai jalan masuk saja, jika ada yang mengantri di jalan, maka harus mencari SPBU lainnya,
2. Turunkan Oktan Premium (tetapi tetap bebas timbal). Dengan solusi ini, Pertamina seyogyanya akan menghemat biaya produksi dan pemilik kendaraan yang rasio kompresi mesin tinggi akan menyebabkan gangguan “ngelitik” pada mesin kendaraaannya,
3. Kita sama-sama tahu, bahwa terkadang takaran dan kualitas BBM jenis premium dan solar tidak sesuai dengan standar. Oleh karena itu, flagship Pertamina dengan “Pasti Pas” direkomendasikan untuk hanya ada di kawasan Bebas Hambatan (Tol) dan daerah rural. Karena untuk jalan tol membutuhkan BBM yang prima sedangkan daerah rural justru dapat diberdayakan untuk angkutan umum yang kecil2.
4. Pembatasan pembelian justru dilakukan hanya di daerah rural saja sedangkan di daerah protokol dibebaskan karena porsi Premium vs Pertamax dikurangi. Untuk Solar, sepertinya pembatasan diberlakukan di seluruh SPBU. Mekanisme pembatasan, terserah Pertamina.
5. Smart Card khusus diberikan hanya kepada Angkutan Umum saja. Karena untuk kepentingan khalayak ramai, maka Angkutan Umum bersmart card dapat membeli BBM dengan harga yang disubsidi. Tetapi Smart Card tersebut harus mampu menyimpan data pembelian harian jika ternyata Angkutan Umum tersebut “kencing” untuk moda transportasi lainnya.

Untuk menjaga agar kepentingan umum tetap terpenuhi, maka ada baiknya Jargon Pertamina “Pasti Pas” dihilangkan. Karena justru dengan jargon tersebut, maka Pertamina seperti “tidak dipercaya” di negeri sendiri (walaupun memang ada beberapa kasus yang mendukung hal tersebut).

Semoga Indonesia makin jaya…

Mengapa Menaikkan Harga? (Kasus Singkong Keju…)

Mei 21, 2008

Sebagai jalan raya utama yang menghubungkan Ciputat dengan Pamulang dan sekitarnya, jl Raya Pamulang selalu ramai dilewati oleh berbagai macam kendaraan. Tak heran sepanjang jalan itu menjadi lahan basah untuk dijadikan kawasan perbisnisan. Seperti halnya Alfa, Super Indo, Giant (dulu Hero), membuka toko di kawasan Pamulang Permai. Ditunjang oleh keberadaan angkutan kota Ciputat-Muncul 24 jam, maka kawasan ini menjadi kawasan yang “tidak pernah sepi” dari beraneka ragam barang dagangan.

 

Beberapa bulan lalu, tepatnya di depan Toko “Merpati” (Fuji Film), berdiri lapak penjual Singkong Keju “Nyalira” yang dimotori oleh “Kang Ali”. Pada saat awal2 penjualan, seringkali lapak tersebut penuh oleh orang yang antri beli singkong keju. Apalagi pada saat hujan, banyak sekali motor yang mampir untuk beli Singkong Keju tersebut. Dikarenakan usaha singkong keju dianggap cukup menjanjikan, maka muncullah beberapa lapak lain yang berorientasi sama, yaitu “Singkong Keju” atau ada juga yang menamakan “Singkong Meletus”. Mungkin terhitung sepanjang 1 km jalan di daerah Pamulang Permai, ada sekitar 5 pedagang singkong keju. Belum termasuk penjual yang tidak terlihat jelas dari pinggir jalan. Rasanya? Mungkin rasa renyahnya yang membuat ketagihan pembelinya. Untukrasa, keju sedikit, banyak bumbu pedasnya. Berbeda dengan di kota asalnya, Bandung, kejunya benar-benar terasa.

Tetapi apa yang terjadi? Saat ini satu per satu lapak mulai tutup. Dekat kecamatan Pamulang, berganti berjualan Tahu Sumedang. Cabang Kang Ali di Parakan, tutup. Dan sebagainya.
Mengapa?
1. Untuk menandingi rasa Kang Ali, sepertinya sulit kecuali berinovasi. Misalkan singkong rasa strawberry, dan sebagainya. Jika menggunakan trademark “Singkong Keju”, maka relatif konsumen rata-rata menunjuk lapak Kang Ali daripada lapak yang lain,
2. Harganya naik dari Rp 5.000 menjadi Rp. 6.000. Kenaikan harga dimotori oleh lapak Kang Ali pada beberapa minggu lalu. Tetapi serta merta, lapak-lapak lain menaikkan harganya.

Ada sedikit catatan untuk Kang Ali sebagai trademarker Singkong Keju sekitar Pamulang. Walaupun rasa tidak begitu dianggap signifikan, tetapi sebagai pelopor seharusnya Anda mengantisipasi kenaikan beberapa bahan pendukung Singkong Keju dengan cara lain, dengan alternatif kenaikan harga menjadi alternatif terakhir. Mengapa? Karena walaupun kenaikan 20% (dari Rp 5.000 menjadi Rp. 6.000) dianggap tidak memberatkan konsumen, tetapi Kang Ali lupa, bahwa minimal untuk membeli Singkong Keju anda, membutuhkan minimal 2 lembar uang, yaitu pecahan Rp 5.000 dan Rp. 1.000 (untuk logam sementara diabaikan dahulu). Sebelum Kang Ali menaikkan harga, konsumen cukup membayar Rp 5.000 (minimal 1 lembar uang) sehingga dapat menikmati Singkong Keju Kang Ali. Perilaku konsumen seperti ini kurang mendapat perhatian yang lebih dari pebisnis seperti Kang Ali.

Seharusnya untuk mengantisipasi kenaikan bahan penunjang, Kang Ali dapat menyiasati:
1. Mengurangi jumlah singkong (misalkan dari 6 buah singkong dalam 1 dus menjadi 5 buah singkong). Jika konsumen menanyakan, jawablah bahwa hal ini untuk menekan agar Kang Ali berusaha untuk tidak menaikkan harga,
2. Berinovasi dengan cara lain yang lebih murah daripada membeli Keju. Ingat, Keju Kang Ali tidak begitu melimpah ruah di singkongnya. Bisa saja mengganti dengan Margarine, dan sebagainya,
3. Merubah Kemasan dari dus menjadi media lain yang lebih murah. Memang, jika menggunakan styrofoam berbahaya bagi kesehatan. Atau platik hitam, yang notabene karsinogennya menumpuk di plastik tersebut. Setidaknya Kang Ali bisa mengurangi biaya Staples dan Jasa-nya kepada warung sebelah.

Sebagai renungan, mungkin pemerintah perlu membuat suatu pelatihan-pelatihan bagi UKM mengenai strategi menghadapi kenaikan beberapa bahan makanan agar pelaku bisnis dapat survive di saat situasi yang kritis seperti sekarang ini. Mudah-mudahan…