bye Jacko…

Juni 29, 2009 by Rahmadi Budiman

Kaget waktu baca running text Michael Jackson meninggal…

Sampai sekarang “Heal the World” masih terus berputar di mp3 player…
Menemani tidur di awan, saat terbang Jakarta-Denpasar p.p…
Ingat masa2 jadul dulu, waktu SMP-SMA di mana lagu-lagu Jacko begitu menyihir kita…

Saat ini folder Music di laptop sudah banyak lagu Jacko…untuk mengenang dia…

Bye Jacko…

Belajar Jujur di Negeri Orang

Mei 13, 2009 by Rahmadi Budiman

Masih teringat di pikiran saya, pada saat saya pergi ke negeri orang…Ternyata saya belajar akan sebuah kejujuran dari orang yang sederhana…

Ceritanya beberapa waktu lalu, saya jalan ke negeri orang. Pada saat saya mau pulang ke hotel, saya naik taxi. Terus terang di sana taxi-nya ngga seperti di Jakarta di mana kita harus pintar memilih perusahaan taxinya…
Singkat cerita, saya minta diantar ke hotel di mana saya tinggal. Walau baru beberapa hari di sana, tetapi saya lumayan hapal jalan menuju hotel. Tetapi arah yang dituju oleh sang sopir berlawanan dengan arah menuju hotel…Stay cool and confident.

Setelah dia agak sedikit condong menjauh dari arah ke hotel, seketika saya bertanya…excuse me…are you sure that we go to the right direction…? Sang sopir menanyakan kembali nama hotel tersebut…dan setelah saya bilang nama hotelnya, dia langsung memohon maaf karena salah mendengar nama hotel. Kemudian dia memutar arah dan dia menunjuk angka di argometernya. Dia bilang, sir…please remind this…i’ll go to the place that you called me…

Saya menghapal rate yang ada di argometer. Kemudian setiap dia melewati ERP (electronic road pricing), dia bilang…please add (sekian) dollar…kemudian sampailah di gedung di mana saya masuk ke taxi itu. Dia mengatakan…i’m sorry…i’ll go to the right direction and please remind for this number

Akhirnya saya menjadi bingung, kenapa dia kok kembali ke gedung di mana saya naik taxi…dan beberapa waktu kemudian, sampailah saya di hotel di mana saya tinggal. Sang sopir langsung bilang…please pay as you know from that building to this hotel…nah lo…tambah bingung…Tanya lagi, bagaimana dengan biaya “muter2″nya…karena bagi saya itu cukup mahal. Dia bilang bahwa karena ini kesalahan dia dan dia tidak mengkonfirmasi tujuan penumpang, cukup bayar perjalanan yang saya butuhkan (Gedung – hotel)…Saat itu saya sadar, ternyata dia jujur…dia telah mengakui kesalahannya dan bersedia tidak dibayar (arti lain : didenda) karena salah arah. Saya keluarkan uang tambahan dari perhitungan perjalanan Gedung-Hotel, tetapi dia menolak halus dan berkata bahwa saya mencari uang yang memang benar2 didapat dari kemampuan saya. Saya tidak mau dibayar akan kesalahan yang saya perbuat.

Saat itu saya tertegun…saya sadar bahwa saya sedang berada di negeri orang dan cenderung kurang menjunjung adat ke-timur-an. Ternyata di negeri orang, masih ada rasa jujur pada seorang pengemudi taxi.

Salut…

Terminal 3 Bandara Soeta

April 29, 2009 by Rahmadi Budiman

Sharing inreyen Terminal 3 Bandara Soeta Jakarta…
Seperti biasa, kembali pakai IAA (Indonesia Air Asia) j6.35 karena GA400 sudah sampai ke Economy Class “M”…

Prediksi terminal ini mampu 1 juta penumpang, sepertinya harus direvisi. Karena pada saat busy hour seperti j5 wib di mana mayoritas seluruh maskapai menjadwalkan berangkat pukul 5.30 – 6.30, terminal ini seperti penuh sesak dan tidak siap menampung sekitar 400 penumpang dalam suatu waktu yang bersamaan. (Gambar tidak diambil)…

Mulai pintu masuk, sudah ada 4 line antrian yang mengerucut menjadi 2 line. Biasa…masalah 1st check point. Di sini mulai penumpang sulit diatur, tidak seperti terminal 1 dan 2 yang “sudah mature”. Ada yang teriak2 pesawat jam 6 lah, ada yang bilang hampir ketinggalan lah…kembali lagi, seharusnya para penumpang sadar, bahwa jam 5 wib itu jam busy hour.
Sampai di desk area, bergegas menuju desk di mana penerbangan ke Denpasar tertulis di papan di atasnya. Di sini cenderung lebih lega dibandingkan dengan terminal 1 atau 2 (domestik), di mana padatnya penumpang sudah tersortir di 1st check point terminal 3.

Bergegas cari musholla untuk subuhan, ketemu di dekat area kedatangan. Secara umum, saya lebih suka shalat di terminal 2 (karena suasananya cenderung lebih khusu’) dan di terminal 1 (lebih luas). Di sini masih terlihat agak kotor karena pembangunan bandaranya baru jadi.

kedatangan-21

Suasana di Arrival Area di jam 5.30 wib

 

 

Naik ke lantai 2, Departure Area…

keberangkatan

 

 

 

Terkesan bukan di Jakarta, lebih modern…
Di sini ada fasilitas minuman gratis seperti di kampus saya, ITB. Tapi karena saya sibuk ambil gambar yang lain, terlupa…

Masuk ke 2nd check point…wah…antriannya…panjang. Tidak seperti terminal lainnya, walau panjang, tetapi tertib dan cepat….
antri-check-point-2

Di sini terlihat ada 4 line yang mengerucut kembali menjadi 2 line.

Seperti biasa, negaraku tercinta…banyak yang main selonong sana sini dengan dalih “sudah boarding”

Apakah mereka ngga sadar, kalau sudah pegang boarding pass, kita sudah terdaftar di manifest penumpang…ngga usah buru2, pak…bu…tenang aja
Di sini saya mendapatkan pengalaman yang cukup menggelikan. Mayoritas menyalahkan “terminal 3″…dengan kata2:
“kapok deh saya pakai terminal 3″
“ini gara2 petugasnya ngga cekatan”
dan sebagainya…

Tapi mereka lupa, ini adalah kesalahan maskapai di mana dalam waktu serentak mereka memberangkatkan pesawatnya bersamaan…Bukan karena sdm Angkasa Pura kurang cekatan atau terminal 3 yang belum 100% ready…tetapi justru maskapainya yang mengatur jadwal berdekatan.
Bahkan bapak-bapak sebelah saya maju ke depan karena sudah final boarding call, tapi sampai depan disuruh antri…(salut…!)…dengan nada kesal dia bilang : payah ni terminal 3, kapok saya ke sini. Mendingan terminal lain…
Langsung saya balas : pak, kalau penerbangan paling pagi, pasti hectic seperti ini. Ngga terminal 3, tapi 1 dan 2 juga seperti ini. Eh dia ngga terima…dia bilang ngga kok mas, saya sering pakai terminal 2 ngga seperti itu….saya balas lagi, saya pulang tiap minggu pakai terminal 2 dan yakin 100% hectic…ngga percaya, pak? hehehe…kok ya orang menyalahkan sistem baru, ngga mau diajak berubah…*sigh*
Ada juga (maaf) TKI yang nyerobot antrian sambil berdalih dia sudah beli tiket RM 210 (kata lain : mahal dan sombong karena baru datang dari malaysia) takut ketinggalan…saya timpali lagi, maaf silakan antri dari belakang…di Indonesia yang laku Rupiah, bukan Ringgit…hehehe…
boarding-lounge

Setelah check point 2, terlihat interior minimalis di bandara ini. Semua disebut area 1, 2, 3, dst…Area itu dibagi sesuai dengan pintu A, B, C, D, yang terdekat.

Di sini terlihat kurangnya informasi di mana kita harus duduk, pintu mana kita akan boarding, maskapai apa, nomer penerbangan…Apalagi speaker (pengeras suara) agak cempreng alias pecah-pecah. Sampai2 bapak yang duduk di belakang saya menanyakan pengumuman boarding…

Overall…
1. Saya prefer menyukai terminal 2 dan 1 karena ke-khas-annya Indonesia,
2. Minimalis karena eco terminal (ecology dan economy) menyebabkan masih banyak yang kurang,
3. Mushola seperti di mall2, mengoptimalkan ruangan tersisa…Perlu dipertimbangkan untuk disempurnakan, maklum airport tax Rp. 40.000 itu seharusnya kita dapat pelayanan prima,
4. Cahaya matahari cukup untuk menggantikan lampu penerangan, tetapi cenderung boros di AC. Kalau di terminal 1, alley ke boarding lounge dibuka tanpa kaca tentunya akan “eco” juga,
5. Antrian di check point 1 dan 2 harus diberikan line. Tipikal orang Indonesia yang tidak bisa tertib harus diatur oleh sistem pasif,
6. Sepertinya untuk taxi akan sulit didapatkan jika melihat layout pintu kedatangan di luar terminal. Walhasil : cenderung taxi gelap merajalela,
7. Karena terminal 3 ini di Indonesia, tolong diperbanyak lagi ke-khas-an Indonesia di dalam terminal. Jangan menjadi bangsa peniru, tetapi jadilah bangsa yang bangga akan budayanya sendiri…

Denpasar, 29 April 2009

Kerahasiaan Informasi Pribadi

April 2, 2009 by Rahmadi Budiman

Wahai rekan2 di perbankan dan underbow-nya…

Tidakkah anda mengetahui bahwa informasi pribadi itu rahasia? Mengapa data pribadi saya bisa tersebar ke mana2?
Mulai penawaran kartu kredit, pinjaman lunak, bahkan membership hotel…weh…semuanya bermuara pada 1 hal…informasi pribadi saya sudah tersebar ke mana2…

Sekali lagi, saya berusaha menyadarkan rekan2 di perbankan dan underbow…tolong jaga kerahasiaan informasi nasabah atau calon nasabah…
Untuk underbow atau outsourcing perbankan…please, jangan anda bertindak seperti double marketing agent. Kami akan menghargai anda seperti anda menghargai data pribadi kami…

Tidak ada yang salah, tetapi bagaimana mitigasinya

April 2, 2009 by Rahmadi Budiman

Setelah sekian lama ngga nulis, kepikiran di sela2 kirim report dan evaluasi progress untuk nulis2.
Sekedar sharing…

Akhir-akhir ini, melihat kondisi Situ Gintung pasca rubuhnya tanggul yang mengelilingi situ tersebut, ramai2 orang teriak siapa yang salah…

Dalam suatu kerangka project management, disebutkan adanya Risk Management di mana suatu resiko itu tidak dapat dihilangkan sama sekali, tetapi bagaimana kita mitigasi resiko tersebut.
Tidak ada yang salah…tetapi justru perencanaan yang tidak optimal-lah penyebab itu semua. Pemerintah tentunya memiliki anggaran yang terbatas dan perlu memberikan skala prioritas apa saja yang akan didahulukan. Warga…sudah tentu tidak tau mau lapor ke mana setelah melihat adanya gejala-gejala tanggul akan longsor.

Semua tidak salah…dan juga tidak ada yg benar…
Coba sekarang kita perlakukan segala tugas dan pekerjaan dalam kerangka Project Management. Mulai Initiation, Planning, Executing, Monitoring & Control, Closing.

Sekali lagi…mitigasi resiko itu penting…segera assessment resiko yang kemungkinan muncul serta dampak yang ditimbulkan.

Korban tentunya butuh solusi, bukan butuh panggung sandiwara dengan judul “Siapa yang Salah”

Life is too short for my best partner

Januari 18, 2009 by Rahmadi Budiman

Almarhum Gusti Ngurah Suardika Jaya

 

 

 

 

 

 

In Memoriam…Gusti Ngurah Suardika Jaya (  0808LL911788  )

Hari Sabtu pagi, tim Sapu Bersih ZTE Bali menunggu rekan kami yang berdomisili di Bali untuk melanjutkan proses re-cross connect transmisi untuk 2 sites yang sudah on air. Malam Sabtu, proses re-cross connect masih 50%, sampai subsite Bedugul Reloc.

Karena seluruh sites di Pulau Bali sudah on air semua, maka kami tidak terlalu “ngoyo” untuk menyempurnakan kerjaan. Terus terang, saat ini kami tidak dalam kondisi dikerjar target, maka pekerajaan itu akan dilanjutkan pada hari Sabtu.

Sabtu pagi, driver Kadek sudah menunggu Gusti di hotel sejak jam 9 wita. Biasanya Gusti on time jika janjian dengan kita. Pada saat kita sedang breakfast di hotel, Bayu mendapat kabar bahwa Gusti kecelakaan di daerah Celuk, Sukawati. Padahal Bayu sedang berada di Bima untuk melakukan konfigurasi BSC di sana. Saat itu pula kami harus mengembalikan kunci site yang telah kami pinjam ke operator.

Setelah semua proses pengembalian kunci selesai, kami berangkat ke RS Ganesha, Celuk, untuk menengok kondisi Gusti. Tetapi seketika kami dikagetkan oleh kabar via telpon ke driver bahwa rekan kita, Gusti sudah meninggal. Seakan tidak percaya sembari menerima beberapa telepon dari rekan2 sekantor, kami tetap melanjutkan perjalanan ke Celuk.

Sesampai di RS Ganesha sekiar pukul 11 wita, kami melihat dengan mata kepala sendiri di UGD, bahwa rekan kita, kawan terbaik, Gusti Ngurah Suardika Jaya, telah terbujur kaku dengan beberapa luka lecet di kaki, tangan, dan muka.
Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un
Gusti Ngurah Suardika Jaya meninggal akibat kecelakaan motor yang disebabkan adanya motor yang dikendarai seorang wanita memotong jalan. Beliau mengalami luka dalam pada bagian kepala yang menyebabkan beliau meninggal dunia.

Dikarenakan sedang ada upacara Tumpek Landep, maka jenazah Gusti disemayamkan di RSU Gianyar sampai dengan hari Senin, 19 Januari 2009.

Pagi ini kami mendapat kabar dari kakak Gusti bahwa Ngaben untuk Gusti akan dilakukan pada hari Jumat, 23 Januari 2009.

Teriring doa kami baik dari saya pribadi, maupun tim ZTE Bali untuk mendiang almarhum Gusti Ngurah Suardika Jaya agar mendapatkan tempat yang terbaik di sisi-Nya. Amin…

Selamat Jalan, kawanku…
Rasa cintamu sudah kamu buktikan…
Istirahatlah dengan tenang…

Denpasar, 18 Januari 2009
Tim ZTE Bali
include DPM dan Manager SDM yang telah datang melayat langsung ke rumah orang tua Gusti

Guys, Start Your Engine in 2009

Januari 3, 2009 by Rahmadi Budiman

Try to Reach the Dream in Dream Land Beach

Happy new year 2009 everyone…
Selamat tahun baru 1430 Hijriyah juga…

Awal tahun ini target seluruh pekerjaan di Bali-Nusra harus selesai. Triwulan 1 adalah masa kritis untuk pekerjaan saya ini,
Tahun ini harus lebih baik dari tahun lalu,
Pending sertifikasi PMP harus difollow up,
Renovasi rumah harus selesai tahun ini,
Umroh bareng-bareng 1 keluarga,
dan lain-lain…

Setidaknya resolusi dapat dibreakdown berdasarkan waktu, jangka pendek, menengah, dan panjang (seperti Pelita-yang dipelajari sewaktu SD-SMP dahulu),
Setidaknya saya punya mimpi yang harus dicapai di tahun ini,

Tinggal bagaimana merealisasikannya yang membutuhkan effort dan planning tepat…

Semoga…Amin…

Pulau Dewata, Januari 2009

Customer is the Real King?

Januari 3, 2009 by Rahmadi Budiman

Suatu saat kita harus bisa menempatkan posisi dalam bersosialisasi. Apalagi dalam hubungan bisnis, positioning harus dianggap paling penting. Terkadang kita pada posisi pemberi layanan (service provider) tetapi di sisi lain kita bisa juga sebagai customer.

Seperti halnya antara vendor dan operator, kita harus menempatkan diri sebagai service provider kepada operator. Dalam bahasa prokem, kita kenal istilah “bohir” di mana bohir adalah pemilik dan sumber modal/dana. 2 Peraturan dalam hubungan bisnis adalah :
1. Bohir tidak pernah salah,
2. Jika Bohir salah silakan baca peraturan 1.

Terkadang kita terlena akan peraturan itu. Stigma-stigma yang terbentuk menjadikan kita sebagai individu yang merasa superior di mana customer bukanlah sebagai raja di mata service provider. Walaupun kita berada dalam posisi vendor, tetapi kita juga customer bagi entitas lainnya. Setidaknya kita sendiri customer terhadap capaian yang harus diraih dalam jangka waktu tertentu.

Seperti halnya beberapa hal yang telah dialami oleh saya sendiri. Walaupun saat ini saya merasa sebagai service provider untuk customer, tetapi ada kalanya saya menjadi customer terhadap entitas subbisnis lainnya. Cukup mengagetkan juga, di saat era liburan panjang akhir tahun, ada yang terlena pada positioning ini. Emosional yang berlebihan menjadikan service provider is the king. Apa yang terjadi? Jika memang seperti itu, maka sebagai service provider harus bersiap-siap kehilangan potential customer dalam jangka waktu tertentu.

Memang diakui terkadang kita belajar tidak hanya class-based atau text-book saja. Tetapi pengalamanlah yang menempa dan membentuk pribadi apakah menjadi tangguh ataukah sebaliknya. Kembali lagi, mitigasi masalah bisa saja kita buat, tetapi masalah tidak bisa kita hindari. Oleh karena itu, melalui tulisan ini setidaknya menggugah pada service provider untuk sadar bahwa positioning dalam berhubungan penting terutama menempatkan customer sebagai raja.

Denpasar yang Terik, Awal Tahun 2009

Membayar Pajak Kendaraan Bermotor

Januari 3, 2009 by Rahmadi Budiman

Beberapa minggu lalu, mendadak ingin melihat bukti pembayaran pajak motor saya. Ternyata saya menunggak pajak 2 bulan…:D…Mumpung hari Sabtu, akhirnya tekad untuk mengurus sendiri pembayaran pajak. Bulan desember 2007 lalu juga mengurus sendiri untuk pembayaran pajak mobil saya.

Akhirnya sampai juga di Kantor Bersama Samsat Ciputat yang terletak di jalan RE Martadinata, Cipayung, Ciputat. Kantor Samsat Ciputat ini hanya melayani untuk Kendaraan Bermotor yang berdomisili di Kecamatan Pondok Aren, Kecamatan Ciputat, dan Kecamatan Pamulang.

Tahap pertama adalah BPKB, STNK, dan KTP difotokopi. Biaya fotokopi dan map warna kuning (untuk motor) cukup mahal, yaitu Rp 4.000,-. Padahal kalau fotokopi di luar, tentunya harganya beda. Kemudian map-nya sudah ada stempel B-  – atau diisi oleh petugas nomer polisi kendaraannya. Cukup mahal…
Kemudian setelah lengkap, berkas fotokopi dan asli dibawa ke loket Pendaftaran yang bertuliskan “Formulir”. Di sana berkas kita dilihat, kemudian mereka memasukkan nomer polisi dan keluar print out pendaftaran untuk memperpanjang STNK/membayar pajak.

Kemudian kita menunggu panggilan dari loket 2, di mana BPKB asli milik kita akan dikembalikan setelah diverifikasi. Prosesnya tidak lama, hanya menunggu rata-rata 10 menit. Setelah dipanggil dan BPKB kita dikembalikan, kembali menunggu panggilan dari loket 3 untuk pembayaran.

Dari loket 3, setelah diberitahu berapa kita harus membayar, maka berkas kita akan dilanjutkan ke loket selanjutnya. Selain menerima kembalian uang (jika memang ada … hehe), mereka memberikan juga bukti pembayaran pajak (yang biasanya kita lampirkan di belakang STNK kita).

Di loket 4, petugas hanya memeriksa bukti pembayaran dan membubuhi stempel pada STNK kita pada kolom sebelah kanan bawah. Jika sudah distempel, maka selesailah prosesi pembayaran pajak kendaraan bermotor kita.

Nah, jika dilihat dari total waktu yang dihabiskan, rata-rata bisa mencapai 20 menit (pengalaman tercepat saya) sampai 45 menit (pengalaman paling lama). Tetapi semua tergantung dari seberapa padat warga yang akan membayar pajak. Saran : usahakan jangan bayar pajak kendaraan bermotor di hari Sabtu atau Senin atau sehari setelah libur panjang. Kalau mau lebih cepat, datang 1 jam sebelum loket tutup maka petugas akan lebih cekatan dalam menyelesaikan dokumen kita.

Selamat membayar pajak…

Mengapa Menaikkan Harga ? (Kasus Bahan Bakar Minyak)

Mei 23, 2008 by Rahmadi Budiman

Akhir-akhir ini topik media massa selalu berkaitan dengan rencana pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Walaupun masih berupa rencana, efek kenaikan tersebut luar biasa. Tidak bisa dipungkiri bahwa ketergantungan kehidupan sehari-hari dengan BBM tidak bisa dilepaskan. Mulai dari moda transportasi, komunikasi, dan lain-lain, menggantungkan asa mereka dengan BBM tersebut.

Terus terang sejak diberi kenikmatan berupa kendaraan roda dua dan roda empat, saya menggunakan BBM jenis Pertamax untuk kedua moda transportasi tersebut. Mengapa? Alasan saya cukup simpel, bahwa untuk mencari Premium yang benar-benar murni cukup sulit. Apalagi mengisi di SPBU berstempel “Pasti Pas”, cukup jauh dari rumah. Sehingga pemikiran saya, untuk pertamax, jarang diutak-atik kadarnya, walaupun praktek tersebut saya yakin tetap ada.

Tetapi Pertamax merupakan BBM yang tida bersubsidi. Artinya, harga pasar end user mengikuti harga minyak mentah dunia. Pada saat saya menggunakan Pertamax, mulai dari selisih harga Rp 300 dari Premium, sampai sekarang……..Hampir 2x Lipat…!

Memang miris sekali pada saat saya isi BBM melihat di samping jika ada mobil yang ber-cc besar tp isi premium…Seandainya mereka lebih membaca karakter mesin yang ditumpanginya…dan membaca rekomendasi penggunaan BBM minimal oktan berapa. Terbayang mobil saya yang harganya murah, tetapi direkomendasikan menggunakan Oktan minimal 90. Sedangkan premium, oktan 89 (itu kalau murni).

Kalau melihat harga BBM pertamax dengan BBM premium yang menurut saya cukup “njomplang” (bahasa Jawa), maka saya sebenarnya setuju premium dinaikkan harganya. Apalagi subsidi BBM diberikan kepada pos anggaran yang konsumtif. Tetapi di sisi lain, keterkaitan harga BBM dengan kehidupan sehari-hari jelas tidak bisa dipungkiri. Buah simalakama bagi pemerintah.

Sebagai warga negara, saya urun rembug…Pemikiran seorang pikir (belum pakar) yang seandainya dapat diterima, ya alhamdulillah. Alternatif ini dilakukan agar subsidi pemerintah untuk menekan supaya harga BBM (terutama yang bersubsidi) tidak naik.

Untuk Pertamina (tidak tahu sebagai apa, regulator/operator…)
Peruntukan : Kendaraan Roda 4
1. Perbanyak pompa Pertamax dibandingkan Premium di protokol Jakarta. Kalau saat ini rasionya (misalkan) 1:4 (1 pompa Pertamax : 4 Pompa Premium), maka ditingkatkan lagi menjadi 1:2. Sehingga kita bisa menggunakan falsafah “bebas antri” untuk Pertamax. Selain itu, antrian SPBU hanya sampai jalan masuk saja, jika ada yang mengantri di jalan, maka harus mencari SPBU lainnya,
2. Turunkan Oktan Premium (tetapi tetap bebas timbal). Dengan solusi ini, Pertamina seyogyanya akan menghemat biaya produksi dan pemilik kendaraan yang rasio kompresi mesin tinggi akan menyebabkan gangguan “ngelitik” pada mesin kendaraaannya,
3. Kita sama-sama tahu, bahwa terkadang takaran dan kualitas BBM jenis premium dan solar tidak sesuai dengan standar. Oleh karena itu, flagship Pertamina dengan “Pasti Pas” direkomendasikan untuk hanya ada di kawasan Bebas Hambatan (Tol) dan daerah rural. Karena untuk jalan tol membutuhkan BBM yang prima sedangkan daerah rural justru dapat diberdayakan untuk angkutan umum yang kecil2.
4. Pembatasan pembelian justru dilakukan hanya di daerah rural saja sedangkan di daerah protokol dibebaskan karena porsi Premium vs Pertamax dikurangi. Untuk Solar, sepertinya pembatasan diberlakukan di seluruh SPBU. Mekanisme pembatasan, terserah Pertamina.
5. Smart Card khusus diberikan hanya kepada Angkutan Umum saja. Karena untuk kepentingan khalayak ramai, maka Angkutan Umum bersmart card dapat membeli BBM dengan harga yang disubsidi. Tetapi Smart Card tersebut harus mampu menyimpan data pembelian harian jika ternyata Angkutan Umum tersebut “kencing” untuk moda transportasi lainnya.

Untuk menjaga agar kepentingan umum tetap terpenuhi, maka ada baiknya Jargon Pertamina “Pasti Pas” dihilangkan. Karena justru dengan jargon tersebut, maka Pertamina seperti “tidak dipercaya” di negeri sendiri (walaupun memang ada beberapa kasus yang mendukung hal tersebut).

Semoga Indonesia makin jaya…